Kamis, 20 Januari 2011

Desa Candirejo, Sekar Budaya dan "Keluarga Cendana"

 
Desa Candirejo adalah sebuah desa kecil yang terletak tidak jauh dari Candi Borobudur. Desa Candirejo sudah berdiri sejak abad ke 7 sebelum Candi Borobudur dibangun yaitu pada abad 8 atau 9 Masehi. Sebagian masyarakat Desa Candirejo pada awalnya memeluk agama hindu dan budha kemudian sekitar tahun 1006 area di sekitar Gunung Merapi terkubur termasuk Borobudur dan sebagian masyarakat yang beragama hindu dan budha berpindah tempat ke Jawa Timur dan Bali sehingga seperti yang kita ketahui sekarang ini agama hindu dan budha berkembang pesat di Bali.
Mata pencaharian sebagian besar penduduknya adalah petani. Tetapi ada juga yang bermata pencaharian dengan membuka industri kecil di dalam wilayah desa dan sekitar desa tersebut. Masyarakat Desa Candirejo berkarakteristik sebagaimana masyarakat pedesaan lainnya. Mereka sangat ramah, memiliki rasa kekeluargaan yang tinggi, memiliki rasa gotong royong, saling menyapa meskipun tidak saling kenal, dan masih memiliki kepercayaan kejawen (mengikuti budaya jawa). Rumah-rumah penduduk masih sangat sederhana bahkan masih ada yang terbuat dari kayu dan bambu. Alat transportasi yang digunakan juga sangat tradisional yaitu sepeda dan andong.

Menurut tutur tinular (kata turun-temurun), nama Candirejo berasal dari kata Candighra. Seiring waktu berjalan, terjadi perubahan kata atau penyebutan, Candighra kemudian berubah menjadi Candirga dan selanjutnya berubah lagi menjadi Candirja, dan pada akhirya seperti nama desa tersebut saat ini, yaitu Candirejo. Bila diuraikan, kata Candi (bahasa Jawa) berarti batu dalam bahasa Indonesia, dan kenyataannya separuh dari luas wilayah desa Candirejo berupa daerah berbukit yang masuk dalam kawasan pegunungan Menoreh yang merupakan bekas gunung api. Keberadaan batu itu juga tersimbolkan dalam beberapa nama tempat yang terkait dengan mitos setempat tentang bebatuan seperti Watu Kendhil, Watu Ambeng, Watu Dandang yang terletak di dusun Butuh, Watu Tambak, Watu Tumpuk, Watu Asin, Watu Cekathak yang letaknya di dusun Sangen dan Kaliduren. Kata Rejo sendiri berarti subur dan ini merupakan perlambang kesuburan tanah dataran Candirejo, meskipun merupakan tanah lahan kering. Pada akhirnya Candirejo dapat diartikan sebagai wilayah yang banyak batu-batunya tetapi subur.

Desa Candirejo juga memiliki sejarah sebagai tempat persinggahan pengikut pangeran Diponegoro (salah satu pahlawan perjuangan Indonesia) ketika berperang dengan tentara Belanda sekitar tahun 1825. Sebagai peninggalan budaya, momen itu tercurah dalam satu tarian yang dikenal dengan nama Jathilan, yang menggambarkan latihan perang pasukan berkuda pangeran Diponegoro. Kesenian ini berkembang sejak tahun 1920-an dan memiliki beberapa versi. Musik pengiring dari kesenian ini adalah karawitan.

Dengan perkembangan seni pertunjukan di Desa Candirejo dan animo masyarakatnya terhadap seni pertunjukan mendorong terbentuknya berbagai kelompok-kelompok seni yang berbasiskan seni pertunjukan yang salah satunya adalah kelompok jathilan Sekar Budaya di dusun Brangkal desa Candirejo. Jathilan Sekar Budaya didirikan pada tahun 1991 oleh para sesepuh dan tokoh-tokoh seni dusun Brangkal, dan kesenian jatilan Sekar Budoyo terdiri dari tiga generasi, yang beranggotakan anak-anak sebanyak 15 anak, remaja atau pemuda 25 orang, dan yang tua ada 20 orang. Mengingat pada saat ini desa Candirejo telah menjadi Desa Wisata maka kesenian jathilan ini semakin diperhatikan dan dipelihara agar tetap berjalan.

Kesenian jatilan Sekar Budoyo menampilkan berbagai macam joget atau tari -tarian diantaranya :

1.     Jathilan Anak-anak.

2.     Jathilan ( yang Dimainkan oleh orang–orang tua )

3.   Jathilan yang menceritakan perang tanding antara Danang Sutowijoyo melawan Ario Penangsang.

4.     Jathilan Kreasi Baru atau Jatilan yang joget atau tariannya telah dimodifikasi.

Pada perkembangan yang ditemukan dilapangan terdapat berbagai kendala maupun masalah yang ada. Seperti halnya yang ditemukan pada kelompok Jathilan Sekar Budaya, seperti perhatian pemerintah desa yang terkesan tidak memberikan mereka pembinaan yang berarti dan terdapat pengelompokan antara kelompok seni yang berpihak kepada penguasa desa yang menurut kawan-kawan dikelompok Jathilan Sekar Budaya sebagai “keluarga cendana”. Sangat berefek kepada perkembangan jathilan di dusun Brangkal tersebut walaupun rata-rata dari anggota kelompok tersebut tidak hanya menggangtungkan nafkah hidupnya pada kesenian jathilan semata tetapi kecintaan mereka terhadap jathilan itu sendiri dan menurut penulis, pemerintah desa pada hakikatnya harus memberikan pembinaan yang berarti karena Desa Candirejo merupakan sebuah desa wisata dan jathilan merupakan salah satu yang menjadi jualan wisata yang menarik bagi wisatawan yang berkunjung ke desa Candirejo sehingga berhak untuk mendapatka apresiasi yang selayaknya.

Adapun masalah yang akhirnya ditimbulkan dari dampak tersebut adalah sebagai berikut:

-       Tidak adanya dana pembinaan yang disediakan pemerintah desa sehingga perawatan alat dan property lainnya menjadi tanggungan kelompok jathilan Sekar Budaya.

-       Sistem pembagian hasil dari koperasi desa yang tidak transparan sehingga membuat upah menjadi sangat minim.

-       Kebijakan desa yang lebih mengutamakan wisata desa sebagai jualan utama wisatanya menyebabkan kurangnya animo masyarakat untuk mencari rejeki dalam bidang seni pertunjukan.

-       Pola pertunjukan yang terkesan monoton dan tak ada peningkatan mutu pertunjukan yang disebabkan karena kurangnya waktu latihan yang sangat membutuhkan perbaikan.

-       Pola musikal yang sangat dasar dan monoton disebabkan pemahaman yang rendah karena menurut mereka ini memang bukan prioritas utama dalam seni jathilan.

Berdasarkan pemahaman diatas seharusnya ini tidak terjadi apalagi mengingat bahwa Desa Candirejo merupakan Desa Wisata yang menjadi tujuan wisatawan domestik dan mancanegara yang berkunjung di kawasan Borobudur. Sehingga kesenian Jathilan Sekar Budaya membutuhkan pengemasan ulang untuk meningkatkan segi seni pertunjukannya yang lebih menarik dan agar menjadi lahan mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan hidup anggota kelompok Jathilan tersebut sehingga menjadi contoh kepada kelompok-kelompok Jathilan lainnya yang ada di Desa Candirejo. Melalui pembinaan serta pengembangan yang dilakukan oleh Lembaga Pengabdian Masyarakat Instutut Seni Indonesia Yogyakarta melalui P3 WILSEN (Program Pengembangan dan Pembinaan Wilayah Seni) ini.


Memejamkan mata untuk mendengar

Kadang manusia berfikir bahwa keindahan adalah wujud yang nyata, adalah sesuatu yang wajar jika kita berfikir demikian. Keindahan, terutama keindahan seni terlalu diukur dalam bentuk materi atau wujud. Yang esensi dasarnya mengacu pada benda, tetapi bagaimana dengan keindahan yang dapat kita temui pada seni musik?. Bukankah musik hakikatnya adalah suara. Apakah dengan cara memainkan musik dengan ekspresi bahasa tubuh ?. ya!, Semua bergantung kepada yang memainkannya. Tetapi bukankah itu terkesan egois?,  lalu bagaimana dengan pendapat orang awam, Yang kebanyakan di jaman sekarang ini  cenderung lebih menyukai tampilan fisik ataupun goyangan tubuh dan menjadikan musik hanyalah nilai lebihnya. Kita mungkin sering menjumpai kasus-kasus semacam ini, seperti contoh, paduan suara yang dulunya adalah memang paduan suara sekarang menjadi paduan tari “plus” suara. Ini banyak kita temui pada grup yang oleh anak muda jaman sekarang disebut dengan boyband. Begitu pula yang terjadi pada musik dangdut dimana penonton lebih cenderung menantikan goyangan biduannya dibandingkan musiknya. Sungguh ironis, padahal irama musik dangdut yang sangat fenomenal itu hanya dijadikan pengiring tarian erotis. Merekapun hanya bisa berkilah dengan alasan musik sebagai industri atau itulah khas mereka. Ya!! Kembali lagi, semua bergantung kepada selera yang bersangkutan.
Industri musik saat ini memang lebih cenderung memperhatikan aspek pasar, keinginan konsumen, dan cenderung mengarahkannya sebagai jualan penghasil rupiah semata tanpa mempertimbangkan lagi apakah pemusik atau pelakunya itu menikmati atau tidak, asalkan itu laku dijual. Seorang teman pernah berkata seperti ini, “ saya mau makan apa jika saya tidak ikuti pasar? masalah hati, kerja memang butuh pengorbanan”. Nah, musik memang sudah dianggap suatu pekerjaan. Seperti pegawai kantoran yang bisa duduk didepan meja dari pagi sampai sore, mereka tidak peduli, suka atau tidak yang penting mereka bisa mendapatkan penghasilan untuk keluarga mereka. Sementara, ini sangat kontras dengan seorang pengamen clempung yang sering saya jumpai seputar jl. Taman Siswa, Mergangsan, Yogyakarta. Beliau sangat menikmati permainan clempungnya, berpindah dari satu warung makan ke warung makan memainkannya tanpa pamrih, beliau tidak meminta apa lagi mengemis uang sebagai imbalan. Yang dilakukan hanyalah memainkan satu tembang pendek dan setelah selesai, mengucapkan terima kasih kepada pengunjung warung yang sebagian bahkan tidak menyadari kehadirannya apalagi memberi apresiasi. Tetapi beliau tidaklah surut apalagi berkecil hati, karena hal itu dilakukannya hampir setiap malam hingga saat ini. Inilah bentuk pengabdian beliau terhadap sesuatu yang dicintainya, semua dilakukan tanpa pamrih dan itulah pekerjaannya. Memang sih, penghasilan yang peroleh tidaklah sebesar teman saya tadi, tetapi ada satu hal yang menjadi kelebihannya yaitu hati. Hati yang bebas, lepas dan terpuaskan, itulah yang hilang dari teman saya. Tetapi kembali lagi, semua tergantung yang menjalaninya.
Kita semua pasti sepakat bahwa manusia memiliki dirinya sendiri, berhak menentukan hidupnya sendiri dan bertanggung jawab atas keputusannya. Disini kita mendapati loyalitas seorang “pengamen” yang dimana hidupnya telah diabdikan untuk sesuatu yang sangat dia cintai dan seorang “pemusik” yang mengabdikan dirinya untuk materi. Tetapi semua ini tidaklah bermaksud dan apalagi memvonis seseorang atau golongan. Karena, sekali lagi. Ya!!!, semua tergantung anda.

Oleh : Muhammad Awwaluddin Patiroi