Kamis, 20 Januari 2011

Memejamkan mata untuk mendengar

Kadang manusia berfikir bahwa keindahan adalah wujud yang nyata, adalah sesuatu yang wajar jika kita berfikir demikian. Keindahan, terutama keindahan seni terlalu diukur dalam bentuk materi atau wujud. Yang esensi dasarnya mengacu pada benda, tetapi bagaimana dengan keindahan yang dapat kita temui pada seni musik?. Bukankah musik hakikatnya adalah suara. Apakah dengan cara memainkan musik dengan ekspresi bahasa tubuh ?. ya!, Semua bergantung kepada yang memainkannya. Tetapi bukankah itu terkesan egois?,  lalu bagaimana dengan pendapat orang awam, Yang kebanyakan di jaman sekarang ini  cenderung lebih menyukai tampilan fisik ataupun goyangan tubuh dan menjadikan musik hanyalah nilai lebihnya. Kita mungkin sering menjumpai kasus-kasus semacam ini, seperti contoh, paduan suara yang dulunya adalah memang paduan suara sekarang menjadi paduan tari “plus” suara. Ini banyak kita temui pada grup yang oleh anak muda jaman sekarang disebut dengan boyband. Begitu pula yang terjadi pada musik dangdut dimana penonton lebih cenderung menantikan goyangan biduannya dibandingkan musiknya. Sungguh ironis, padahal irama musik dangdut yang sangat fenomenal itu hanya dijadikan pengiring tarian erotis. Merekapun hanya bisa berkilah dengan alasan musik sebagai industri atau itulah khas mereka. Ya!! Kembali lagi, semua bergantung kepada selera yang bersangkutan.
Industri musik saat ini memang lebih cenderung memperhatikan aspek pasar, keinginan konsumen, dan cenderung mengarahkannya sebagai jualan penghasil rupiah semata tanpa mempertimbangkan lagi apakah pemusik atau pelakunya itu menikmati atau tidak, asalkan itu laku dijual. Seorang teman pernah berkata seperti ini, “ saya mau makan apa jika saya tidak ikuti pasar? masalah hati, kerja memang butuh pengorbanan”. Nah, musik memang sudah dianggap suatu pekerjaan. Seperti pegawai kantoran yang bisa duduk didepan meja dari pagi sampai sore, mereka tidak peduli, suka atau tidak yang penting mereka bisa mendapatkan penghasilan untuk keluarga mereka. Sementara, ini sangat kontras dengan seorang pengamen clempung yang sering saya jumpai seputar jl. Taman Siswa, Mergangsan, Yogyakarta. Beliau sangat menikmati permainan clempungnya, berpindah dari satu warung makan ke warung makan memainkannya tanpa pamrih, beliau tidak meminta apa lagi mengemis uang sebagai imbalan. Yang dilakukan hanyalah memainkan satu tembang pendek dan setelah selesai, mengucapkan terima kasih kepada pengunjung warung yang sebagian bahkan tidak menyadari kehadirannya apalagi memberi apresiasi. Tetapi beliau tidaklah surut apalagi berkecil hati, karena hal itu dilakukannya hampir setiap malam hingga saat ini. Inilah bentuk pengabdian beliau terhadap sesuatu yang dicintainya, semua dilakukan tanpa pamrih dan itulah pekerjaannya. Memang sih, penghasilan yang peroleh tidaklah sebesar teman saya tadi, tetapi ada satu hal yang menjadi kelebihannya yaitu hati. Hati yang bebas, lepas dan terpuaskan, itulah yang hilang dari teman saya. Tetapi kembali lagi, semua tergantung yang menjalaninya.
Kita semua pasti sepakat bahwa manusia memiliki dirinya sendiri, berhak menentukan hidupnya sendiri dan bertanggung jawab atas keputusannya. Disini kita mendapati loyalitas seorang “pengamen” yang dimana hidupnya telah diabdikan untuk sesuatu yang sangat dia cintai dan seorang “pemusik” yang mengabdikan dirinya untuk materi. Tetapi semua ini tidaklah bermaksud dan apalagi memvonis seseorang atau golongan. Karena, sekali lagi. Ya!!!, semua tergantung anda.

Oleh : Muhammad Awwaluddin Patiroi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar